Archive for December, 2008

h1

tukang pijet tak bernyawa di sebuah pusat keramaian di mana manusia memanjakan hasrat konsumerismenya

December 16, 2008

aktivitas saya minggu ini lumayan banyak. apalagi menjelang liburan natal yang semakin dekat. beberapa agenda sudah saya selesaikan karena saat liburan nanti saya ingin total berdiam diri dan menulis atau melarikan diri ke pulau tak berpenghuni…hehehe.

saya hanya punya waktu kurang lebih dua minggu sampai aktivitas menantang adrenalin saya lagi dan membangkitkan level stres dalam diri saya. hehe.

seperti tadi malam, ajakan untuk malam keakraban di sebuah club di jogja tidak bisa saya tolak, karena ada seorang teman datang dari Jakarta, dan sudah lama sekali tidak bertemu, akhirnya saya iyakan, padahal sebenarnya mata ingin tertidur atau paling tidak leyeh leyeh di kamar sambil menghabiskan gossip girls season 1 yang saya sewa DVD nya beberapa hari yang lalu…hhhhhhhh. tapi lantai dansa sudah memanggil dan buat saya memang club hopping lumayan menyenangkan, bertemu dengan orang-orang aneh yang saya suka baca karakternya dari kejauhan (hobby aneh saya), membayangkan apa yang mereka pikirkan dan kira2 kehidupan seperti apa yang mereka punya…

caesar club

caesar club

caesar ambience

caesar ambience

dan saya sukses pulang jam 4 pagi dan baru bisa lelap mulai pukul 5 pagi saat adzan magrib sudah mulai berkumandang… bangun pukul 9.45 karena janji lain sudah menunggu…

jam 2 saya menyempatkan diri pergi ke sebuah pusat keramaian di malioboro, dan bertemu dengan tukang pijat tak bernyawa ini…memang tidak ada yang mengalahkan tukang pijat asli – saya punya seorang tukang pijat langganan yang seminggu sekali selalu saya panggil kalau capek dan lelah sudah mengikat urat-urat ini…hehe, berlebihan ya…

5000 rupiah untuk 15 menit, lumayan, dan ternyata tukang pijat satu ini lumayan ahli, dalam 2 detik pertama dia langsung bisa menemukan titik lelah saya dan terus berkonsentrasi di situ…hhehehehehe…dan selama lima belas menit itu kami tidak mengucapkan satu katapun, dia terus memijat saya, dalam diam… hehe…

saya dan tukang pijat bisu dan mati itu, hehehe

saya dan tukang pijat bisu dan mati itu, hehehe

h1

Jogja never ends…

December 14, 2008
saya di depan distro bis Airplane..

saya di depan distro bis Airplane..

waktu saya masih kuliah di Jogja, Jogja terkenal sekali dengan semboyan atau paling tidak slogannya ‘never ending asia…’ sampai saat inipun saya kurang paham dengan pemberian semboyan itu oleh pemerintah setempat..

yang saya tangkap adalah mungkin Jogja punya seabreg budaya yang ingin ditawarkan pada siapapun yang mengunjunginya dan semua tawaran itu adalah asia seutuhnya, makanya slogannya ‘never ending asia…’

slogan yang menyenangkan, karena sedikit banyak bagi saya slogan itu bisa berarti ‘tak ada matinya…’

sama seperti banyaknya event yang selalu memenuhi kalendar kegiatan kota budaya dan kota pelajar ini. yang pastinya sangat menyenangkan, karena siapapun tidak akan kehabisan ide buat mengisi waktu luang. bukan hanya orang setempat, yang paling penting memang bagi pengunjung, karena dari event event ini mereka bisa tahu bahwa Jogja memang punya seabreg yang ingin ditawarkan pada siapapun yang bertandang…

salut untuk dinas pariwisata yang bekerja dengan sigap dan mampu bersikap versatile dalam mengantisipasi kreativitas dan kondisi pariwisata nasional, jadi memang semboyan ‘visit Indonesia…’ itu tidak berakhir sebagai semboyan saja…

di antara semua perjalanan saya minggu ini, setelah Marcel melanjutkan perjalanan ke Lombok, saya berkesempatan untuk datang ke sebuah perhelatan yang sepertinya karena sukses luar biasa pada event yang sama tahun lalu (namun dengan nama yang berbeda), yaitu jogja distro fest (kalau tidak salah namanya begitu), dan tahun lalu namanya kick fest. tahun lalu acara ini diadakan di Jogja Expo Centre. dan sepertinya tahun ini karena pendaftarnya agak berkurang maka tempat acara dipindahkan ke GOR UNY di daerah samirono.

dan seperti yang saya duga peminat event ini bisa dipastikan 98 persen adalah remaja ABG yang memang menggemari produk-produk yang ditawarkan oleh clothing-clothing lokal, seperti kaos, tas, celana, dan banyak lagi item-item untuk melengkapi keperluan berbusana remaja.

well, terlepas dr perkiraan saya yang 98 persen tadi, saya sempat melihat beberapa orang tua yang menemani anak mereka untuk berbelanja. saat tadi saya datang ke lokasi pukul 11, tempat itu sudah sangat penuh dan agak susah untuk bergerak, bahkan rasanya asupan udara sangat minim. jadi setelah mendapatkan tiga kaos dari clothing Airplane, dengan harga miring, di mana salah satu kaos itu kemudian saya perhatikan cacat setelah dicoba di rumah. tapi 2 yang lain lumayanlah…saya segera melarikan diri dari sana karena memang udaranya sesak sekali..

usaha satu ini, distro dan clothing yang selalu dekat dengan imagenya memang berkembang dengan pesat sekali dalam 10 tahun terakhir…banyak inovasi yang dibuat, dan usaha ini menjamur seperti penyakit panu di musim hujan…apalagi kemudian clothing ini mampu merepresentasikan atau mewakili keresahan anak muda dalam berkreasi atau menunjukan kreativitasnya. dalam pengamatan saya selama ini, bisnis ini memang terlihat mudah, karena dengan nominal sedikit saja kita sudah bisa memulai bisnis ini, tapi saat kemudahan ini membuat kita melakukan bisnis ini seadanya dan kreativitas atau inovasi tidak berjalan maka distro2 ini bisa saja gulung tikar, karena ini sudah terjadi pada salah satu distro yang pernah saya kunjungi.

saat kreativitas bersatu bersama kekuatan modal dan semangat saya yakin bisnis distro dan clothing ini sampai kapanpun bisa sangat exist.

misal, clothing347 dari Bandung. salah satu pionir dari bisnis ini. sampai detik ini mereka terus melakukan inovasi, tidak ada matinya, dan mereka mulai merambah pasar di luar negeri. dan bila bisnis sudah sampai di titik itu yang perlu kita lakukan tidak akan seberat waktu dulu kita memulainya, yang penting terus konsisten, terus semangat, dan terus berinovasi.

sama seperti jogja yang terus berkreasi, seperti jutaan seniman yang tinggal dan hidup di kota ini.

it’s a vibrant one, FYI…

h1

Marcel ke Lombok

December 12, 2008

Menjadi couch surfer memang memberikan pengalaman unik buat tiap orang, termasuk saya.

kaki kaki penjelajah

kaki kaki penjelajah

bertemu dengan orang baru, apalagi orang yang tidak bisa kita ajak berbahasa Ibu, dalam hal ini adalah bahasa Indonesia, berpigmen kulit yang berbeda dengan kita, rambut kuning, mata yang pastinya jarang sekali hitam pekat seperti yang dimiliki oleh orang Indonesia, dan tentunya pembawaan mereka yang sangat-sangat lain,

…bertemu dengan mereka, menjalin persahabatan yang sangat-sangat singkat, menemani mereka berjalan-jalan, memperkenalkan keunikan dan warna budaya kota tempat kita tinggal, membawa kita ke perasaan yang sangat-sangat unik. rasanya sudah sah menjadi warga negara dunia. karena tanpa kita sadari, kita kemudian berteman dengan individu-individu yang datang dari tempat yang mungkin seumur hidup tidak akan pernah kita kunjungi.

karena tiket pesawat kesana mahal. karena untuk keluar negeri banyak sekali yang harus kita persiapkan, kita bayar, kita urus. karena negara kita ini terus diserang masalah finansial yang membuat mata uang kita semakin terpuruk dan semakin memperburuk keadaan karena semuanya akan berimbas kemanapun, harga bahan bakar yang fluktuatif, bahan pokok yang semakin mahal, bahkan kerusuhan karena intinya adalah masalah ekonomi ini..

perjalanan ke Borobudur bersama Marcel

perjalanan ke Borobudur bersama Marcel

saya di Borobudur

saya di Borobudur

sekali seumur hidup kita dipertemukan dengan orang-orang ini, orang-orang yang sangat lain dengan kita, tapi pastinya sebagai manusia yang baik, tentunya mereka membawa hal yang sama yang ingin mereka tawarkan, rasa ingin tahu dan persahabatan.

semua turis pastinya penasaran dengan apa yang dimiliki oleh tempat-tempat baru yang mereka kunjungi.

seperti Marcell, tamu ketiga saya, dia hanya datang 3 hari, untuk kemudian melanjutkan perjalanannya ke Lombok. siapa yang tahu kapan lagi dia akan datang? tapi perjalanannya ke Yogyakarta yang hanya tiga hari ini sudah memberikan kesan mendalam. bahwa orang-orang di luar sana juga ramah. juga seperti kita.

karena kita sering menyebut mereka orang asing, kita pikir mereka memang benar-benar ‘asing’. tapi ternyata tidak.

naik ke puncak

naik ke puncak

saya di candi sewu

saya di candi sewu

tiga hari dua malam memang tidak cukup untuk membawa Marcell mengenal seluruh sisi dan warna-warni Yogyakarta, tapi paling tidak dia sudah mengenal salah satu sisi Indonesia dan Yogyakarta, bahwa ada orang-orang di negara ini yang cukup ramah untuk menyambutnya, yang punya cukup pengetahuan untuk tidak menipunya, karena kita ini dasarnya sama, bahwa Indonesia tidak menyeramkan seperti yang mungkin selama ini banyak orang di luar sana pikirkan.

marcel singhal

marcel singhal

memperkenalkan negara ini, budayanya, apa yang kita punya, warisan budaya, tidak pernah terasa begitu membanggakan seperti sekarang ini.

wah, saya bisa bilang saya cinta Republik ini.